Arkha yang menyaksikan secara langsung kemampuan Lynx saat melawan Valgor, merasa sangat mengagumi dan mulai mempercayainya. Sejak kecil, suku Raksa sangat mengagumi kekuatan, dan kekuatan yang dikeluarkan Lynx adalah kekuatan yang benar-benar tidak bisa dianggap remeh."Aku setuju. Aku juga ikut mendukung rencanamu."

Semua orang tertawa kecil mendengar ucapan Kanha. Tapi di balik tawa itu, mereka tahu bahwa tugas di depan mereka tidak akan mudah.

"Baiklah," kata Lynx akhirnya. "Mari kita mulai. Kita harus mengumpulkan mereka semua dan memastikan mereka tahu bahwa kita semua ada di sisi yang sama."

Malam itu, perkampungan kecil suku Raksa dipenuhi cahaya dari api unggun yang besar di tengah lapangan. Penduduk berkumpul, membawa makanan dan minuman sederhana yang mereka miliki. Anak-anak berlarian, sementara para wanita menyiapkan makanan. Aroma daging panggang memenuhi udara.

Di tengah kegembiraan itu, Lynx duduk di dekat api bersama Raka, Rira, Narendra, Kanha, dan Arkha. Senyum kecil menghiasi wajahnya saat melihat semangat para penduduk, meskipun tubuhnya masih terasa lemah.

"Sudah lama kami tidak merasakan pesta seperti ini," kata Raka dengan nada penuh nostalgia. "Biasanya, pertemuan semacam ini hanya terjadi untuk memperingati kemenangan. Malam ini berbeda. Kami merayakan harapan."

Narendra tersenyum, menatap ke arah Lynx. "Harapan itu datang karena Lynx. Kalau bukan karena dia, kita semua mungkin sudah berakhir di tangan Monrest."

Kanha melompat dari tempat duduknya. "Benar sekali! Kak Lynx adalah pahlawan! Dia bahkan bisa mengalahkan monster seperti Valgor!"

Rira menahan senyum, memandang Lynx. "Lain kali, kau tidak akan bertarung sendirian Lynx. Kami semua akan ikut berjuang bersamamu."

Lynx tersenyum dan berkata. "Aku percaya dengan kalian. Dengan bersatu, kita pasti akan membebaskan pulau ini dari kekejaman orang-orang jahat seperti Monrest."

Tiba-tiba, suara Karsan terdengar dari arah api unggun. "Tenang semua!" serunya, menarik perhatian kerumunan.

Semua orang berhenti bicara, memandang ke arah Karsan. Ia berdiri di atas batu besar, tangannya terangkat. "Kita semua tahu bahwa malam ini adalah malam yang penting. Bukan hanya karena kita berhasil selamat, tapi juga karena kita menemukan seorang pemimpin baru!"

Kerumunan bersorak, meneriakkan nama Lynx.

"Lynx!" seru Karsan, menunjuk ke arah Lynx. "Kau telah membuktikan bahwa kau lebih dari sekadar pejuang. Kau memiliki keberanian, kekuatan, dan kecerdasan untuk memimpin kami. Aku, atas nama semua yang ada di sini, kami telah memutuskan bersama dan meminta kau untuk menjadi kepala suku Raksa!"

Kerumunan meledak dengan sorak-sorai. Lynx terdiam sejenak, terkejut dengan pengumuman itu.

Rira menatapnya dengan mata berbinar. "Lynx, kau pantas mendapatkannya. Tidak ada yang lebih layak darimu."

Namun, Lynx mengangkat tangannya, meminta semua orang diam. Ketika suara kerumunan mereda, ia berdiri dengan tenang. "Aku berterima kasih atas kepercayaan kalian. Tapi aku bukan bagian dari suku Raksa. Aku tidak bisa menjadi kepala suku kalian."

Kerumunan bergumam, bingung.

"Aku datang ke sini bukan untuk memimpin," lanjut Lynx. "Aku datang untuk membantu menyatukan kalian, untuk memastikan bahwa suku Raksa bisa berdiri bersama melawan Monrest. Tapi kalian tidak butuh aku sebagai kepala suku. Kalian sudah memiliki seseorang yang lebih layak."

Semua mata memandang Lynx dengan penuh kebingungan.

Lynx menoleh ke arah seorang pria tua. "Raka adalah tetua yang bijaksana. Ia pernah menjadi tetua kalian sebelum kehancuran suku kalian. Dia mengenal kalian lebih baik daripada aku. Dan aku yakin ia akan menjadi pemimpin yang luar biasa."

Raka terkejut. "Lynx, aku... aku sudah tua. Aku tidak bisa memimpin seperti dulu."

"Tapi kau memiliki kebijaksanaan," kata Lynx dengan tegas. "Dan dengan dukungan dari semua orang di sini, kau tidak akan memimpin sendirian."

Arkha, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara. "Aku setuju dengan Lynx. Ayahmu, Raka, pernah menjadi salah satu pemimpin terbaik. Jika kau memimpin lagi, aku akan berdiri di sisimu."

Kerumunan mulai bersorak lagi, kali ini meneriakkan nama Raka.

Raka menundukkan kepalanya, terharu. "Jika itu yang kalian inginkan... aku akan menerima tanggung jawab ini. Tapi hanya jika kita semua bekerja bersama, sebagai satu suku."

"Dan itulah yang akan kita lakukan," kata Lynx. Ia menoleh ke arah kerumunan. "Mulai malam ini, kita harus bersatu. Bukan hanya sebagai suku Raksa, tapi sebagai bagian dari pulau ini. Kita akan melawan Monrest bersama-sama, untuk melindungi masa depan kita."

Sorak-sorai kembali memenuhi udara.

Namun, di sudut lapangan, Banu berdiri dengan wajah gelap. Ia mengepalkan tinjunya, matanya penuh dengan kemarahan.

"Dia bahkan bukan bagian dari kita," gumamnya pelan. "Kenapa semua orang begitu percaya padanya?"

Salah satu anak buahnya mendekat. "Tenang, Banu. Kita akan mencari cara untuk membalikkan keadaan."

Banu mengangguk, berusaha menutupi emosinya. Ia tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertindak. Tapi di dalam hatinya, dendam terhadap Lynx dan Arkha terus membara.

Sementara itu, pesta terus berlanjut, dengan musik, tawa, dan harapan baru yang mengisi udara malam. Lynx duduk kembali di tempatnya, memandangi kerumunan dengan senyum tipis.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rira, duduk di sebelahnya.

Lynx menatap api unggun. "Aku berpikir tentang langkah berikutnya. Monrest tidak akan berhenti hanya karena kita menang sekali. Ini baru permulaan."

Rira tersenyum. "Kau mungkin bukan bagian dari suku Raksa, Lynx. Tapi malam ini, kau telah menjadi bagian dari keluarga kami."

Kanha berlari mendekat, membawa secangkir minuman. "Kak Lynx, kau harus mencoba ini! Rasanya seperti... uh, aku tidak tahu, tapi enak!"

Lynx tertawa kecil, menerima cangkir itu. Di tengah tawa dan kegembiraan, ia tahu bahwa hari-hari sulit masih menanti mereka. Tapi untuk malam ini, ia membiarkan dirinya menikmati momen kebersamaan itu.

Pagi itu, sinar matahari menembus dedaunan, menghangatkan udara perkampungan kecil suku Raksa. Raka, yang kini resmi diangkat sebagai pemimpin, duduk di tempat kehormatan di dalam balai pertemuan. Di sekitarnya, Arkha, Banu, Narendra, Rira, dan Lynx duduk melingkar, membentuk lingkaran diskusi. Kanha duduk tak jauh dari Narendra, meskipun ia tidak diundang secara resmi, matanya penuh rasa ingin tahu.

Suasana di ruangan itu cukup tegang. Semua mata tertuju pada Lynx, yang tampak sedang mempertimbangkan kata-kata berikutnya dengan hati-hati.

"Aku tahu kalian semua mungkin tidak akan menyukai apa yang akan aku katakan," kata Lynx akhirnya, menatap mereka satu per satu. "Tapi aku percaya ini adalah langkah terbaik untuk masa depan suku Raksa."

Arkha menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyilangkan tangan di dadanya. "Langsung saja, Lynx. Apa yang ada di pikiranmu?"

Lynx menarik napas panjang. "Aku ingin kalian memindahkan seluruh suku Raksa ke barat pulau."

Kata-kata itu langsung disambut dengan gumaman kaget. Banu tertawa kecil, memandang Lynx dengan tatapan sinis. "Barat? Kau serius? Kau ingin kita pergi ke wilayah yang terkenal dengan makhluk buas dan tanah yang sulit?"

Rira terlihat ragu. "Barat pulau memang selalu dianggap berbahaya, Lynx. Kenapa kau ingin kami ke sana?"

Lynx menatap mereka dengan serius. "Karena disana ada harapan. Suku Sinto sudah menetap di sana, membangun desa baru yang kuat dengan pertahanan yang lebih baik. Aku sendiri yang membantu mereka pindah ke sana. Dan Suku Uksa juga segera menyusul ke tempat itu. "

Mereka yang hadir ditempat itu tampak terkejut. "Suku Sinto dan Uksa? Kalian berhasil menyatukan dua suku itu?". Kata salah satu suku Raksa.

Lynx mengangguk. "Ya. Dan mereka siap melawan Monrest. Narendra dan Kanha adalah bukti nyata. Mereka berdua sesungguhnya adakah orang-orang Suka Uksa. Tapi untuk dapat memenangkan pertarungan ini, kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh kalian, suku Raksa, untuk bergabung. Dengan kekuatan kalian, kita bisa menghadapi Monrest dan mengakhiri kekejaman mereka."

Raka mengusap dagunya, matanya tampak berpikir keras. "Itu terdengar seperti ide yang bagus, tapi pindah ke barat bukan hal yang mudah. Itu berarti membawa semua orang, termasuk wanita dan anak-anak, melewati jalur yang sulit. Dan jika Monrest mengejar kita…"


